Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Otoritas Alkitab Menurut Thomas B. Warren

 

Otoritas Alkitab Menurut Thomas B. Warren

Salah satu tindakan terbesar Allah selain mengutus Anak-Nya untuk mati bagi kita di salib yaitu Ia membuka diri-Nya untuk dikenal oleh umat pilihan-Nya – Ia membuka diri-Nya dan mengijinkan akan umat-Nya mengetahui akan sifat-sifat-Nya yang kudus melalui firman yang telah Ia ilhamkan kepada orang-orang biasa yang dipakai olehNya.

Firman Allah atau Alkitab yang kita pegang hari ini merupakan tulisan teragung yang pernah ada di dalam sejarah kehidupan umat manusia, kata-katanya begitu berkuasa, begitu hidup dan sanggup untuk mengubahkan akan kehidupan setiap orang.

Melalui firman Allah pula kita memupuk dan memuaskan dahaga batiniah kita. melalui firman Allah kita dituntun untuk mengenal Dia, mengikut Dia dan mengetahui akan karya-Nya bagi kita di salib. Jika kita ingin lebih mengenal Pribadi-Nya kitab suci adalah referensi utama-Nya, begitupun jika kita ingin bertumbuh, berakar dan berbuah bagi Dia.

Pelajaran-pelajaran di bawah ini saya kutip dari tulisan Thomas B. Warren dan sedikit perluasan dari Stephen R. Bradd serta saya sendiri.

Karena itu adalah firman Tuhan, Alkitab mampu melakukan hal-hal yang menakjubkan di antara manusia. Ia mampu melakukan banyak hal, di antaranya adalah sebagai berikut:

Alkitab Adalah Firman Tuhan Dan Dengan Demikian Mengungkapkan Kehendak Tuhan Kepada Manusia.

II Petrus 1:20,21 menyatakan - "Mengetahui hal ini terlebih dahulu, bahwa tidak ada nubuatan Kitab Suci yang merupakan interpretasi pribadi, karena nubuat tidak pernah datang dengan kehendak manusia, tetapi orang-orang kudus Allah berbicara ketika mereka digerakkan oleh Roh Kudus.

Tidak ada seorang pun hari ini yang mengetahui apa pun tentang rencana keselamatan Allah kecuali apa yang telah ia pelajari dari Alkitab.

Alkitab Adalah Batasan Tuhan Bagi Manusia.

Rasul Yohanes berkata - "Siapa pun yang melanggar dan tidak tinggal dalam doktrin Kristus tidak memiliki Allah ..." (II Yohanes 9). Siapa pun yang berani percaya dan mempraktekkan apa yang tidak diizinkan oleh Alkitab, maka menentang akan Allah.

Alkitab memiliki kuasa untuk membatasi manusia, untuk menetapkan garis batas yang di dalamnya ia harus berjalan dalam aktivitas hidupnya sehari-hari. Pertimbangkan baik-baik Imamat 10:1,2 dalam hal ini di mana dua imam (Nadab & Abihu) dipukul oleh Tuhan karena melakukan apa yang tidak Dia izinkan.

Meskipun Tuhan tidak secara eksplisit melarang tindakan mereka, perilaku mereka adalah lancang. Mereka melakukan apa yang "tidak diperintahkan oleh Tuhan" dan mereka membayar mahal untuk kesalahan mereka. Firman Tuhan membatasi perilaku manusia.

Alkitab Adalah Cermin Allah Bagi Manusia.

Dengan demikian memungkinkan manusia untuk melihat kelemahannya, untuk melihat kebutuhannya. Kita belajar bahwa Alkitab adalah cermin Allah dari Yakobus - "Karena jika seseorang adalah pendengar firman dan bukan pelaku, ia seperti orang yang mengamati wajah aslinya di cermin; karena ia mengamati dirinya sendiri, pergi, dan segera lupa orang macam apa dia.

Tetapi dia yang melihat ke dalam hukum kasih karunia yang sempurna dan terus melakukannya, dan bukan pendengar yang pelupa, melainkan pelaku firman, dia akan diberkati dalam apa yang dia lakukan" (Yakobus 1:23) -25).

Alkitab Adalah Benih Allah.

Yesus secara khusus menyebut firman Allah sebagai benih dalam Lukas 8:11. Benih selalu menghasilkan "menurut jenisnya" (Kej. 1). Jadi, karena Alkitab adalah benih Allah, ia mampu menghasilkan anak-anak Allah.

Paulus juga menyatakan - "Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman dalam Kristus Yesus. Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus" (Gal. 3:26,27). Manusia menjadi anak-anak Allah ketika, melalui pengaruh benih Allah (yaitu iman atau firman-Nya), mereka dibaptis ke dalam Kristus – dan hidup bagi Dia saja.

Alkitab Adalah "Dinamit" (Kekuatan) Allah.

Kepada jemaat di Roma Paulus berkata - " Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani." (Rm. 1:16). Seperti yang telah dikatakan dengan baik oleh seorang komentator, "Injil adalah kekuatan Allah untuk menyelamatkan manusia.

Kuasa Tuhan telah dan sedang dimanifestasikan dalam banyak cara untuk berbagai tujuan. Dalam menciptakan dunia, Dia menggunakan kekuatan kreatif-Nya; dalam menyelamatkan manusia Dia menggunakan kekuatan-Nya. Kuasa yang menyelamatkan. Kuasa yang dengannya Allah menyelamatkan manusia adalah Injil-Nya.

Jika manusia diselamatkan, mereka akan diselamatkan oleh kuasa Allah. Paulus tidak malu dengan Injil karena itu adalah kuasa Allah untuk keselamatan orang-orang berdosa (anda dan saya). Kekuatan Injil mengangkat kita ke atas sedangkan kekuatan dosa membawah kita kepada dunia orang mati.

Alkitab Adalah Api Tuhan.

Tuhan bertanya dalam Yeremia 23:29 - " Bukankah firman-Ku seperti api, demikianlah firman TUHAN dan seperti palu yang menghancurkan bukit batu??" Tentang pernyataan ini A. W. Streane berkata, "Firman Tuhan yang benar menghabiskan semua yang tidak tahan uji dan menghancurkan perlawanan yang paling keras.

Dalam perikop yang sama nabi Yeremia juga menunjukkan bahwa firman Allah seperti palu yang menghancurkan bukit batu hingga berkeping-keping. Ini menunjukkan kuasa firman Tuhan untuk mematahkan hati yang jahat dan mengubah kehidupan manusia serta firman Tuhan pula yang membangun hati seseorang untuk terus berakar, bertumbuh dan berbuah di dalam Kristus.

Alkitab Adalah Pedang Tuhan.

Paulus berkata - "Dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah" (Ef. 6:17). Penulis Ibrani menulis - "Sebab firman Allah hidup dan kuat, dan lebih tajam dari pedang bermata dua mana pun, menusuk bahkan sampai memisahkan jiwa dan roh dan sendi-sendi dan sumsum dan yang membedakan pikiran dan niat hati."

Firman Allah mampu menebas ke lubuk jiwa manusia, untuk meyakinkan mereka akan dosa-dosa masa lalu mereka, untuk memperjelas kebutuhan mereka akan perubahan untuk keselamatan, dan untuk mengarahkan mereka pada hal-hal yang terlibat dalam perubahan itu.

Dalam firman Tuhanlah kita menemukan bahwa betapa bobrok dan betapa tidak berdaya-Nya kita tanpa Kristus. Kita mengetahui bahwa tidak ada seorangpun yang benar dan tidak ada pula seorangpun yang mencari Allah – di dalam kasih karunia-Nya Ia datang dan mencari kita domba-domba yang tersesat ini.

Alkitab Adalah Makanan (Disediakan Oleh Tuhan) Bagi Jiwa Manusia.

Kita belajar dari rasul Petrus bahwa orang Kristen harus - " Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan," (I Pet. 2:2). Sama seperti Tuhan telah menyediakan makanan fisik untuk tubuh fisik kita, demikian pula Dia telah menyediakan makanan rohani untuk jiwa kita. Makanan itu adalah firman Allah—Alkitab.

Makanan inilah yang akan mensuplai akan pertumbuhan batiniah kita – tidak ada jalan lain untuk bertumbuh dan mengenal-Nya lebih dekat selain menikmati akan firman-Nya. Paulus menuliskan kepada jemaat di Korintus dengan mengatakan ……meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari” (2 Kor 4:16).

Alkitab Adalah Terang Allah Bagi Manusia.

Pemazmur mengatakan ini tentang firman Tuhan - "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku" (Mazmur 119:105). Tanpa terang firman Tuhan, manusia akan berada dalam kegelapan. Dia tidak akan memahami kondisinya yang hilang dan dibutakan atau tahu apa yang harus dilakukan tentang hal itu.

Orang Kristen harus "bersinar seperti terang di dunia" dengan "berpegang teguh pada firman kehidupan" (Flp. 2:15,16). Ketika firman Allah menguasai hidup seseorang maka ia akan secara alamiah memberi pengaruh kepada dunia sekitarnya.

Alkitab Adalah Peringatan Tuhan.

Paulus berkata kepada Timotius - " Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran." (II Tim 4:2). Adalah kehendak Tuhan bahwa manusia harus menggunakan Alkitab untuk memperingatkan diri mereka sendiri dan orang lain tentang nasib orang jahat yang memberontak dan berbalik dari tujuan itu (misalnya, Wahyu 20:10-15; II Tes 1:7-9).

Firman Tuhan adalah alarm pengingat dan sekaligus sebagai penuntun akan kehidupan seorang Kristen – melalui firman Tuhanlah orang-orang kristen menetapkan akan standard hidup mereka dan nilai-nilai yang dianutnya.

Alkitab Adalah Nasehat Allah

Allah bermaksud bahwa manusia harus dinasihati atau dituntun oleh Alkitab untuk berjalan di jalan kebenaran (lih. II Pet 1:5-11; Maz 119:11) agar mereka dapat memperoleh "seratus kali lipat sekarang pada saat ini ...dan di zaman yang akan datang hidup yang kekal" (Markus 10:30).

Alkitab Adalah Dasar Penghakiman Allah.

Yesus menyatakan dalam Yohanes 12:48 - " Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman."

Kepada orang-orang Athena rasul Paulus berkata - “Sesungguhnya, masa-masa kebodohan ini diabaikan Allah, tetapi sekarang memerintahkan semua orang di mana-mana untuk bertobat, karena Dia telah menetapkan hari di mana Dia akan menghakimi dunia dalam kebenaran oleh Manusia yang telah Dia tahbiskan.

Ia telah memberikan jaminan akan hal ini kepada semua orang dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati" (Kisah Para Rasul 17:30,31). Sebagaimana Allah telah membangkitkan Tuhan kita dari kematian, demikian pula Dia akan memanggil kita masing-masing ke pengadilan untuk memberikan pertanggungjawaban tentang bagaimana kita telah menggunakan hidup kita di bumi ini.

Dasar dari penghakiman itu adalah firman-Nya. Dia akan menghakimi kita oleh Anak-Nya dan menghakimi kita oleh Anak-Nya berarti menghakimi kita dengan firman Anak Allah, yaitu Injil.

Kesimpulan Warren berdasarkan point-point penting yang sudah ia bagikan di atas adalah;

Mengatakan bahwa Alkitab diilhami berarti mengatakan bahwa kata-kata dalam Alkitab adalah firman Allah (lih. I Kor 2:9-13; II Pet 1:20,21). Mengatakan bahwa perkataan dalam Alkitab adalah firman Tuhan berarti mengatakan bahwa segala sesuatu yang diajarkan Alkitab adalah benar dan dapat dipercaya sepenuhnya.

Hal ini terjadi karena Allah tidak dapat berdusta (lih. Titus 1:2; Ibr 6:13-20). Firman Allah tidak dapat dilanggar (lih. Mat 5:18; 24:35; Yoh 10:35)—firman Allah tetap untuk selama-lamanya (lih. I Pet 1:22-25). Karena Allah tidak dapat membedakan mana yang tidak benar begitupun Alkitab tidak dapat membedakan mana yang tidak benar.

Mengatakan bahwa Tuhan dapat dipercaya sepenuhnya berarti mengatakan bahwa Alkitab dapat dipercaya sepenuhnya! Karena ini masalahnya, maka apa pun yang diajarkan Alkitab sebagai kebenaran sebenarnya adalah benar.

Para rasul menumpangkan tangan ke atas orang lain, agar mereka dapat menerima kuasa ajaib dari Roh Kudus, dengan demikian menjadi nabi, dengan kuasa untuk menyatakan firman Allah melalui ilham (lih. Ef 3:5; I Kor 2:12- 14; Kisah Para Rasul 8).

Untuk sementara waktu, firman Allah ada dalam diri orang-orang yang diilhami, yang mampu mengkhotbahkan Injil Kristus dengan sempurna. Dengan berlalunya waktu, orang-orang ini (para rasul dan nabi) menulis berbagai kitab Perjanjian Baru. Firman Allah kemudian ada dalam kitab yang diilhami dan yang sampai juga ke tangan kita hari ini (lih. Ef 3:5; II Tim 3:16,17).

Saat ini, tidak ada orang yang diilhami: tidak ada orang yang memiliki karunia ajaib dari Roh Kudus. Hari ini, kita memiliki kitab yang diilhami, Alkitab - dan tidak ada tindakan keagamaan yang menyenangkan Allah yang tidak disahkan oleh kitab itu (lih. II Yoh 9-11; Wah 22:18,19).

Kebenaran ini diakui sebagai otoritatif oleh gereja mula-mula. Mereka mematuhi kebenaran ini dengan menjadi orang Kristen (mis., Kisah Para Rasul 2). Mereka kemudian menjalani kehidupan sehari-hari mereka selaras dengan kebenaran itu. Mereka mengakui bahwa setiap tindakan yang tidak diizinkan oleh kebenaran itu adalah dosa (lih. Gal 1:6-9).

Alkitab tidak hanya berwibawa; itu juga cukup (lih. II Tim 3:16,17; Yak 1:25; I Kor 13:10). Dengan demikian tidak ada kebutuhan untuk wahyu lebih lanjut (lih. Yudas 3; Wah 22:18,19). Manusia harus belajar untuk tidak melampaui apa yang tertulis (lih. I Kor 4:6). Antara lain, Alkitab cukup untuk mengajar manusia: (1) apa yang harus dilakukan untuk menjadi seorang Kristen, dan (2) bagaimana menjalani kehidupan Kristen, termasuk semua pekerjaan dan ibadah Kristen.


Posting Komentar untuk "Otoritas Alkitab Menurut Thomas B. Warren"